iklan

INTERNASIONAL, HEADLINE

Kunjungi Timor-Leste kedua kalinya: kenali Samdech Hun Sen, Sang Bapak Perdamaian Kamboja

Kunjungi Timor-Leste kedua kalinya: kenali Samdech Hun Sen, Sang Bapak Perdamaian Kamboja

Presiden Senat Kerajaan Kamboja, Samdech Akka Moha Sena Padei Techo Hun Sen disambut di Bandara Internasional Presiden Nicolau Lobato, Comoro-Dili, Rabu (07/05/2025). Foto Tatoli/António Daciparu

DILI, 07 Mei 2025 (TATOLI)Presiden Senat Kerajaan Kamboja, Samdech Akka Moha Sena Padei Techo Hun Sen, tiba di Dili untuk melakukan kunjungan resmi ke Timor-Leste dari 07 sampai 09 april, yang merupakan kunjungan kedua.

 Lawatan ini menegaskan kembali komitmen Kamboja dalam memperkuat kerja sama bilateral serta mendukung proses integrasi Timor-Leste ke dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

 Kunjungan pertama Hun Sen ke Timor-Leste dilakukan pada Agustus 2016, ketika ia masih menjabat sebagai Perdana Menteri Kamboja.

Dalam lawatan tersebut, ia menekankan pentingnya kerja sama antarbangsa kecil dan berkembang, serta menawarkan beasiswa pendidikan tinggi kepada pelajar Timor-Leste di Universitas Kamboja, inisiatif yang menjadi fondasi kuat hubungan antarwarga kedua negara.

Berita terkait : Ratusan siswa memenuhi jalan menyambut kedatangan Bapak Perdamaian Kamboja

Samdech Hun Sen merupakan salah satu tokoh politik paling menonjol di Asia Tenggara. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Kamboja selama hampir empat dekade, dari 1985 hingga 2023.

Ia mendapat julukan Bapak Perdamaian Kamboja atas perannya dalam mengakhiri perang saudara melalui pendekatan rekonsiliasi dan reintegrasi mantan pemberontak pada akhir 1990-an.

Hun Sen dikenal karena perannya dalam membawa stabilitas pasca-konflik, memimpin rekonstruksi nasional, serta mengawasi pertumbuhan ekonomi Kamboja.

Hun Sen lahir pada 05 Agustus 1952 di Peam Kaoh Sna, Provinsi Kampong Cham. Ia bergabung dengan Khmer Merah pada 1970, namun membelot ke Vietnam pada 1977. Setelah jatuhnya rezim Pol Pot, ia meniti karier politik dan menjadi Perdana Menteri pada usia muda, menggantikan Chan Sy pada 1985.

Dalam sejarahnya, Hun Sen menjabat sebagai perdana menteri bersama Norodom Ranariddh (1993–1997) hingga akhirnya mengambil alih kekuasaan penuh dalam kudeta tahun 1997. Ia kemudian memimpin pemerintahan Kamboja dari 1998 hingga 2023.

Hun Sen dikenal memiliki hubungan dekat dengan Tiongkok, terutama dalam bidang investasi dan infrastruktur. Ia menikah dengan Bun Rany dan memiliki enam orang anak. Ia fasih berbahasa Vietnam dan memiliki pemahaman dasar bahasa Inggris.

Setelah Pemilu 2023, Hun Sen secara resmi mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri dan menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Hun Manet. Meski demikian, ia tetap menjadi tokoh kunci dalam pemerintahan dengan menjabat sebagai Presiden Senat sejak 2024 dan Ketua Partai Rakyat Kamboja (CPP).

Dalam kapasitasnya sebagai Presiden Senat, ia juga berperan sebagai Kepala Negara sementara ketika Raja Kamboja tidak berada di dalam negeri.

Sebelum berkunjung ke Timor-Leste, Hun Sen melakukan perjalanan ke Indonesia pada 05 Mei 2025 dan bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai tantangan kawasan seperti kejahatan transnasional, penipuan daring, dan penyelundupan narkotika. Kunjungan beruntun ini menunjukkan konsistensi Hun Sen dalam memainkan peran penting di tingkat regional, terutama dalam mempererat hubungan antara negara-negara Asia Tenggara.

Dengan pengalaman politik lebih dari empat dekade, Samdech Hun Sen tetap menjadi figur kunci dalam geopolitik Asia Tenggara.

Kunjungan keduanya ke Timor-Leste menegaskan tekad kedua negara untuk mempererat kerja sama strategis dan membangun kawasan yang damai, inklusif, dan sejahtera.

Reporter     : Cidalia Fátima

Editor          : Julia Chatarina

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!