iklan

EKONOMI, INTERNASIONAL, KESEHATAN, HEADLINE

Analisis IPC : 11 kotamadya dalam fase tiga krisis kerawanan pangan

Analisis IPC : 11 kotamadya dalam fase tiga krisis kerawanan pangan

Pemerintah Timor-Leste bersama mitra internasional meluncurkan Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC - Integrated Food Security Phase Classification) di City 8, Dili. Foto Tatoli/Francisco Sony

DILI, 14 februari 2023 (TATOLI)— Pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Perikanan (MAP -tetun) bersama Program Pangan Dunia (WFP) meluncurkan Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC – Integrated Food Security Phase Classification) Akut yang menunjukan 11 kotamadya dalam fase tiga (3) krisis kerawanan pangan.

Dewan Nasional untuk Ketahanan Pangan, Kedaulatan dan Gizi di Timor-Leste (KONSSANTIL) dan jajaran kementeriannya, dengan dukungan dari WFP dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), mengadakan acara Peluncuran IPC  Akut pertama (Klasifikasi Tahap Ketahanan Pangan Terpadu) di Timor-Leste.

“Setelah pertemuan apresiasi tanggal 12 januari, hasilnya menunjukkan bahwa 22% penduduk Timor-Leste menghadapi ketidakamanan akut yang tinggi dan 11 dari 14 kotamadya berada dalam fase tiga krisis untuk periode saat ini (november 2022-april 2023),” jelas Menteri MAP, Pedro Reis sekaligus sebagai Ketua KONSSANTIL di City 8, selasa ini.

Dijelaskan, 11 kotamadya tersebut terdiri dari Aileu, Ainaro, Bobonaro, Covalima, Ermera, Lautem, Liquiça, Manatuto, Manufahi, Oe-cusse dan Viqueque.

Disebutkan, 300.000 orang di Timor-Leste menghadapi kerawanan pangan yang tinggi (IPC Fase 3 dan 4) untuk musim paceklik (musim kekurangan bahan makanan) saat ini. Sementara 262.000 orang diproyeksikan menghadapi kerawanan pangan yang tinggi selama periode  mei hinga  september 2023.

Pendorong utama kerawanan pangan adalah tidak terjangkaunya sektor masyarakat termiskin. Pandemi, Perang Rusia-Ukraina, dan kenaikan harga pangan dan bahan bakar global terkait telah mengurangi kemampuan rumah tangga untuk mengakses dan membeli makanan.

Selain itu, keterpaparan Timor-Leste terhadap bencana alam, termasuk banjir pada awal 2022 dan 2021, telah mengikis daya beli secara signifikan, dengan penduduk yang terkena dampak menghadapi   kerawanan pangan jangka panjang.

“Kerja sama yang kuat dalam sektor pertanian dan iklim sangat penting untuk ketahanan pangan, yang merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi negara kita,” katanya.

“Dengan menggunakan IPC-Acute, yang merupakan alat multisektor, standar global untuk menganalisis makanan keamanan. Kami dapat melengkapi upaya yang sudah ada sebelumnya untuk mengidentifikasi populasi yang paling rentan, dan memberi saran yang lebih baik kepada pembuat keputusan kami tentang pembuatan kebijakan yang ditargetkan dengan data nyata,” katanya.

Sementara, Perwakilan WFP di Timor-Leste, Cecilia Garzon mengatakan, pihaknya sangat menghargai upaya Pemerintah. “WFP sangat menghargai upaya Pemerintah untuk memimpin dalam membuat analisis ini menjadi kenyataan. Kami berbagi keprihatinan bersama untuk orang-orang yang sangat rawan pangan dan membutuhkan bantuan segera,” kata Cecilia Garzon.

WFP meyakinkan pemerintah bahwa semua dukungan yang mungkin akan diberikan untuk menjangkau orang-orang yang membutuhkan. WFP memiliki sistem dan pengalaman untuk membantu Pemerintah dengan tanggapan yang tepat.

IPC Akut adalah standar, skala global yang memberikan informasi yang relevan secara strategis untuk mencegah, memitigasi, atau mengurangi kerawanan pangan parah yang mengancam kehidupan atau mata pencaharian. Dengan analisis tersebut, para pembuat keputusan dilengkapi dengan gambaran tentang tingkat keparahan situasi kerawanan pangan akut saat ini dan di masa depan.

“Seperti IPC Kronis, klasifikasi IPC Akut berkisar dari fase pertama  (minimal/tidak ada) hingga fase lima (malapetaka/kelaparan),” katanya.

Koordinator PBB di Timor-Leste, Funmi Balogun Alexander meyakinan bahwa PBB siap mendukung Pemerintah Timor-Leste untuk memerangi kerawanan pangan dan percaya dengan upaya bersama bisa diatasi.

“Ini bukan sesuatu yang bisa selesai untuk satu tahun atau dua tahun tetapi harus memiliki rencana jangka panjang, dan laporan ini akan sangat mendukung,” katanya.

Hadir dalam peluncuran  tersebut, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Joaquim Amaral, perwakialn dari setiap kotamadya serta lini kementerian terkait yang berkaitan dengan pangan dan nutrisi.

Reporter   : Cidalia Fátima

Editor        : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!