iklan

EKONOMI, DILI

2022: Timor-Leste hanya produksi 72,081 ton beras

2022: Timor-Leste hanya produksi 72,081 ton beras

Aktivitas di Pelabuhan Dili, saat menurunkan beras dari kapal. Foto Tatoli/Antonio Goncalves

DILI, 11 Juni 2022 (TATOLI) – Pusat Logistik Nasional (CLN) mengungkapkan pada 2022 ini, Timor-Leste hanya mampu memproduksi 72,081 ton beras. Dimana hasil produksi ini tidak bisa menjamin kebutuhan nasional.

Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Pusat Logistik Nasional (CLN – portugis), Jacinto Paijo melalui presentasinya dalam pertemuan TLDPM (Timor-Leste Development Partners Meeting) 2022 pada jumat.

“Produksi di tahun ini untuk beras hanya sekitar 70.000 ton lebih dan ini belum bisa menjawab konsumsi nasional,” ucapnya di Kantor Kementerian, jumat ini.

Ia menjelaskan, sesuai dengan data dari Kementerian Pertanian dan Perikanan (MAP), Timor-Leste memiliki lahan potensial untuk tanam padi seluas 80,578 hektar tetapi lahan yang saat ini digunakan  untuk produksi hanya 30,528 hektar dengan produktivitas tiga  sampai empat kali dalam setahun.

Dalam hal ini, TL hanya memproduksi 72,081 ton beras di tahun ini, sedangkan konsumsi nasionalnya sendiri mencapai 131.000 ton beras dari total populasi 1.513,184. CLN sendiri memiliki 11 gudang di seluruh pelosok negeri yang dapat menampung beras hingga 59.000 ton.

“Semua Gudang tersebut banyak yang kosong karena angka produksi tidak meningkat,” katanya.

TL juga memiliki lahan potensial untuk penanaman jagung seluas 215,747 tetapi lahan yang digunakan hanya seluas 35,496 hektar dengan jumlah produksi untuk tahun 2022 mencapai 85,626 ton jagung.

Jacinto Paijo mengingatkan, sejak 2010 hingga 2012, Pemerintah telah mengalokasikan dana lebih dari $65.675,741 untuk membeli beras import.

“Jika dana ini kita lakukan investasi di dalam negeri kita bisa membuka lapangan kerja bagi sebagian besar orang,” ucapnya.

Ia menjelaskan, semua ini terjadi karena TL hanya bergantung pada produk import, mengimplementasikan sistem pasar bebas, maioritas lahan diabaikan, hewan ternak dibiarkan bebas, keinginan memproduksi masih sedikit dan masih menggunakan sistem pertanian tradisional.

Selain itu, TL juga belum membuat konstruksi bendungan, belum ada peningkatakan untuk sektor produktif seperti pertanian, industri, pertanian, pariwisata, perdagangan dan sektor lain yang bisa meningkatkan produksi nasional untuk menjawab kebutuhan pangan nasional.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!