iklan

EKONOMI, DILI, PENDIDIKAN, SOSIAL INKLUSIF

Sekolah St. Madalena de Canossa luncurkan inisiatif program Sekolah Hijau

Sekolah St. Madalena de Canossa luncurkan inisiatif program Sekolah Hijau

Seketaris Negara urusan Lingkungan, Demetrio de Amaral luncurkan program ‘Eskola Matak’ (Sekolah Hijau) di Sekolah Santa Madalena de Canossa, di Manleuana, senin (25/10). Foto TATOLI/Egas Cristóvão

DILI, 25 oktober 2021 (TATOLI)—Sekolah Santa Madalena de Canossa, senin ini, meluncurkan inisiatif mereka berpartisipasi dalam program ‘Eskola Matak’ (Sekolah Hijau) demi mendidik anak-anak dan orangtua  tentang cara mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang plastik sekali pakai demi menjamin lingkungan yang bersih.

Melalui proyek yang dikembangkan sekolah dalam kemitraan dengan Sekretaris Negara urusan Lingkungan dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) melalui Proyek Pariwisata Untuk Semua USAID, para guru, siswa, dan orangtua  akan bekerja sama untuk mengurangi penggunaan dan pembatasan plastik jejak karbon, dimulai di kelas dan menyebarkan pesan lingkungan kepada masyarakat luas.

Pada acara peluncuran, perwakilan komunitas sekolah menandatangani deklarasi niat untuk mendirikan kelompok lingkungan sekolah untuk mengatur kegiatan yang berhubungan dengan konservasi dan bekerja untuk memperluas model Sekolah Hijau ke sekolah lain di semua tingkatan di seluruh negeri.

Dalam penandatanganan juga,  menyepakati seperangkat peraturan, dimana setiap orang di sekolah harus membuang sampah secara bertanggung jawab, memisahkan sampah organik dan an-organik. Botol plastik dilarang, siswa harus mengemas makanan dan minuman dalam wadah yang dapat digunakan kembali dan meminum air yang disediakan sekolah.

Untuk meminimalkan penggunaan kertas, siswa harus menulis di kedua sisi, dan mendaur ulang atau menggunakan kembali kertas bekas, aluminium, kaca dan plastik. Aturan tersebut juga mengharuskan siswa dan staf untuk menghemat air dan listrik dan menggunakan perlengkapan kebersihan yang aman bagi lingkungan.

Perwakilan Yayasan St. Madalena de Canossa, Suster Guilermina Marçal FDCC mengatakan Sekolah Hijau adalah program yang sangat penting dan menjadi salah satu impian sekolah untuk mendidik generasi muda dan orangtus mereka tentang bagaimana menciptakan lingkungan yang sehat dan damai.

“Sekolah ini memiliki 5.000 murid dan kita lihat setiap hari bisa menghasilkan sampah plastik, botol  3.000 sampai 4.000, ini jika sampai sebulan tak terhitung. Untuk itu, saya rasa ini sangat penting untuk membantu mengurangi sampah plastik, jika negara ini  bersih maka akan  menarik para wisatawan asing,” kata Suster Madalena usai acara peluncuran Sekolah Hijau di Sekolah St. Madalena de Canossa, Has Laran Manleuana, Dili, senin ini.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Tourism For All Project USAID karena telah bekerja berdampingan dengan mewujudkan impian sekolah dalam memerangi sampah plastik dan juga mendidik anak-anak untuk mencintai lingkungan.

Tourism For All Project juga telah menyediakan poster dan infografis untuk dipajang di sekolah-sekolah, 5.000 botol air dan tas yang dapat digunakan  anak-anak dan guru untuk mengurangi konsumsi plastik setiap hari.

Proyek ini membantu sekolah menyelenggarakan lokakarya pada  agustus lalu, yang mengarah pada penciptaan model Sekolah Hijau. Itu bertujuan untuk memperkuat upaya Sekretariat urusan Lingkungan Hidup untuk memenuhi kriteria keberlanjutan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara dalam pendidikan dan pariwisata.

Sementara itu, Direktur Kantor Pertumbuhan Ekonomi USAID/Timor-Leste (TL), Harold Carey mengatakan meskipun Pemerintah TL telah menerapkan kebijakan Nol Plastik, pemahaman tentang masalah lingkungan tidak tersebar luas di semua sektor masyarakat.

Dia mengatakan, beberapa pedagang eceran di Dili tidak lagi menyediakan kantong plastik untuk pembeli, melainkan menjual tas yang dapat digunakan kembali dengan harga yang murah. Ada pembersihan pantai rutin yang diselenggarakan oleh departemen pemerintah, lembaga non-pemerintah, bisnis, dan sekolah. Namun, dalam beberapa hari setelah pembersihan, pantai-pantai itu sekali lagi dipenuhi sampah.

“Seperti banyak tempat di dunia, TL dibanjiri dengan sampah plastik sekali pakai yang dikonsumsi secara lokal atau terdampar di pantainya. Ini tidak enak dilihat, tidak sehat dan membuat negara ini rentan terhadap peristiwa cuaca ekstrem seperti banjir yang pernah terjadi pada  april lalu,” kata Harold Carey.

Dia menjelaskan, konsep Sekolah Hijau menggabungkan pelajaran dan praktik yang baik dari pengalaman TL dalam mendirikan tiga Sekolah Hijau lainnya pada tahun 2019, termasuk Sekolah Cristal, Sekolah St. Inácio Loiola, dan Sekolah Esperanca Patria.

“Fokus upaya mereka ada di lima bidang termasuk, lokakarya dan penyadaran publik, penanaman pohon, taman hijau, mendaur ulang, dan Tara Bandu, hukum adat yang mengatur pengelolaan sumber daya alam.

Selain mitigasi dampak perubahan iklim, kegiatan ini juga penting dalam meletakkan dasar bagi pembentukan ekowisata yang berkelanjutan. Perlindungan lingkungan merupakan salah satu pilar Kebijakan Pariwisata Nasional.

Dilain pihak, Seketaris Negara urusan Lingkungan, Demetrio de Amaral mengatakan Sekolah Hijau adalah instrumen penting pemerintah untuk menjadikan murid dan para guru adalah tempat untuk belajar hal baik dan mempromosikan etika lingkungan dan pendidikan.

“Kita harap bisa mempererat sosialisasi lingkungan di sekolah dan para murid beserta guru menjadi pelaku transformasi dan memberikan dampak pengalaman mereka pada masyarakat. Kita ingin mengurangi sampah plastik dengan banyak menanam pohon untuk membuat sekolah hijau,” tuturnya.

Program Sekolah Hijau telah diluncrukan pada 2016 dengan partisipasi tujuh sekolah berbeda di teritori TL. Direncanakan juga pada  2022 semua sekolah yang sudah bergabung dalam Sekolah Hijau akan berpartisipasi dalam kompetisi lingkungan.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor: Armandina Moniz

 

 

 

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!